15 Juli 2012

Saudariku, Apa yang Menghalangimu untuk Berjilbab?



Saudariku…
Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat cermin. Bukan cermin yang memantulkan bayangan fisik, melainkan cermin yang menjadi refleksi akhlak dan tingkah laku. Kita dapat mengetahui dan melihat kekurangan kita dari saudara seagama kita. Cerminan baik dari saudara kita tentulah baik pula untuk kita ikuti. Sedangkan cerminan buruk dari saudara kita lebih pantas untuk kita tinggalkan dan jadikan pembelajaran untuk saling memperbaiki.

Saudariku…
Tentu engkau sudah mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai. Dan salah satu bukti cinta Islam kepada kita –kaum wanita– adalah perintah untuk berjilbab. Namun, kulihat engkau masih belum mengambil “kado istimewa” itu. Kudengar masih banyak alasan yang menginap di rongga-rongga pikiran dan hatimu setiap kali kutanya, “Kenapa jilbabmu masih belum kau pakai?” Padahal sudah banyak waktu kau luangkan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah jilbab. Sudah sekian judul buku engkau baca untuk memantapkan hatimu agar segera berjilbab. Juga ribuan surat cinta dari saudarimu yang menginginkan agar jilbabmu itu segera kau kenakan. Lalu kenapa, jilbabmu masih terlipat rapi di dalam lemari dan bukan terjulur untuk menutupi dirimu?

Mengapa Harus Berjilbab?

Mungkin aku harus kembali mengingatkanmu tentang alasan penting kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah jilbab kepada kita –kaum Hawa- dan bukan kepada kaum Adam. Saudariku, jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk menutupi perhiasan dan keindahan dirimu, agar dia tidak dinikmati oleh sembarang orang. Ingatkah engkau ketika engkau membeli pakaian di pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya, lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya, engkau akan meminta kepada pemilik toko untuk memberikanmu pakaian serupa yang masih baru dalam segel. Kenapa demikian? Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru, bersih dan belum tersentuh oleh tangan-tangan orang lain. Jika demikian sikapmu pada pakaian yang hendak engkau beli, maka bagaimana sikapmu pada dirimu sendiri? Tentu engkau akan lebih memantapkan ‘segel’nya, agar dia tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah demikian? Saudariku, izinkan aku sedikit mengingatkanmu pada firman Rabb kita ‘Azza wa Jalla berikut ini,
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)
Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)
Saudariku tercinta, Allah tidak semata-mata menurunkan perintah jilbab kepada kita tanpa ada hikmah dibalik semuanya. Allah telah mensyari’atkan jilbab atas kaum wanita, karena Allah Yang Maha Mengetahui menginginkan supaya kaum wanita mendapatkan kemuliaan dan kesucian di segala aspek kehidupan, baik dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang saudari, seorang bibi, atau pun sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari masyarakat. Allah menjadikan jilbab sebagai perangkat untuk melindungi kita dari berbagai “virus” ganas yang merajalela di luar sana. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,
“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’udradhiyallahu ‘anhuma)
Saudariku, berjilbab bukan hanya sebuah identitas bagimu untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala, selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab juga merupakan konsekuensi nyata dari seorang wanita yang menyatakan bahwa dia telah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa malu, dan kecemburuan. Dan semua itu Allah jadikan baik untukmu. Tidakkah hatimu terketuk dengan kasih sayang Rabb kita yang tiada duanya ini?
“Aku Belum Berjilbab, Karena…”

1. “Hatiku masih belum mantap untuk berjilbab. Jika hatiku sudah mantap, aku akan segera berjilbab. Lagipula aku masih melaksanakan shalat, puasa dan semua perintah wajib kok..”
Wahai saudariku… Sadarkah engkau, siapa yang memerintahmu untuk mengenakan jilbab? Dia-lah Allah, Rabb-mu, Rabb seluruh manusia, Rabb alam semesta. Engkau telah melakukan berbagai perintah Allah yang berpangkal dari iman dan ketaatan, tetapi mengapa engkau beriman kepada sebagian ketetapan-Nya dan ingkar terhadap sebagian yang lain, padahal engkau mengetahui bahwa sumber dari semua perintah itu adalah satu, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Seperti shalat dan amalan lain yang senantiasa engkau kerjakan, maka berjilbab pun adalah satu amalan yang seharusnya juga engkau perhatikan. Allah Ta’ala telah menurunkan perintah hijab kepada setiap wanita mukminah. Maka itu berarti bahwa hanya wanita-wanita yang memiliki iman yang ridha mengerjakan perintah ini. Adakah engkau tidak termasuk ke dalam golongan wanita mukminah?
Ingatlah saudariku, bahwa sesungguhnya keadaanmu yang tidak berjilbab namun masih mengerjakan amalan-amalan lain, adalah seperti orang yang membawa satu kendi penuh dengan kebaikan akan tetapi kendi itu berlubang, karena engkau tidak berjilbab. Janganlah engkau sia-siakan amal shalihmu disebabkan orang-orang yang dengan bebas di setiap tempat memandangi dirimu yang tidak mengenakan jilbab. Silakan engkau bandingkan jumlah lelaki yang bukan mahram yang melihatmu tanpa jilbab setiap hari dengan jumlah pahala yang engkau peroleh, adakah sama banyaknya?
2. “Iman kan letaknya di hati. Dan yang tahu hati seseorang hanya aku dan Allah.”
Duhai saudariku…Tahukah engkau bahwa sahnya iman seseorang itu terwujud dengan tiga hal, yakni meyakini sepenuhnya dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan?
Seseorang yang beramal hanya sebatas perbuatan dan lisan, tanpa disertai dengan keyakinan penuh dalam hatinya, maka dia termasuk ke dalam golongan orang munafik. Sementara seseorang yang beriman hanya dengan hatinya, tanpa direalisasikan dengan amal perbuatan yang nyata, maka dia termasuk kepada golongan orang fasik. Keduanya bukanlah bagian dari golongan orang mukmin. Karena seorang mukmin tidak hanya meyakini dengan hati, tetapi dia juga merealisasikan apa yang diyakininya melalui lisan dan amal perbuatan. Dan jika engkau telah mengimani perintah jilbab dengan hatimu dan engkau juga telah mengakuinya dengan lisanmu, maka sempurnakanlah keyakinanmu itu dengan bersegera mengamalkan perintah jilbab.
3. “Aku kan masih muda…”
Saudariku tercinta… Engkau berkata bahwa usiamu masih belia sehingga menahanmu dari mengenakan jilbab, dapatkah engkau menjamin bahwa esok masih untuk dirimu? Apakah engkau telah mengetahui jatah hidupmu di dunia, sehingga engkau berkata bahwa engkau masih muda dan masih memiliki waktu yang panjang? Belumkah engkau baca firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya,
“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui.” (Qs. Al-Mu’minuun: 114)
“Pada hari mereka melihat adzab yang diancam kepada mereka, (mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) waktu pelajaran yang cukup.” (Qs. Al-Ahqaaf: 35)
Tidakkah engkau perhatikan tetanggamu atau teman karibmu yang seusia denganmu atau di bawah usiamu telah menemui Malaikat Maut karena perintah Allah ‘Azza wa Jalla? Tidakkah juga engkau perhatikan si fulanah yang kemarin masih baik-baik saja, tiba-tiba menemui ajalnya dan menjadi mayat hari ini? Tidakkah semua itu menjadi peringatan bagimu, bahwa kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sekarat atau pun orang yang lanjut usia? Dan Malaikat Maut tidak akan memberimu penangguhan waktu barang sedetik pun, ketika ajalmu sudah sampai. Setiap hari berlalu sementara akhiratmu bertambah dekat dan dunia bertambah jauh. Bekal apa yang telah engkau siapkan untuk hidup sesudah mati? Ketahuilah saudariku, kematian itu datangnya lebih cepat dari detak jantungmu yang berikutnya. Jadi cepatlah, jangan sampai terlambat…
4. “Jilbab bikin rambutku jadi rontok…”
Sepertinya engkau belum mengetahui fakta terbaru mengenai ‘canggih’nya jilbab. Dr. Muhammad Nidaa berkata dalam Al-Hijaab wa Ta’tsiruuha ‘Ala Shihhah wa Salamatus Sya’ri tentang pengaruh jilbab terhadap kesehatan dan keselamatan rambut,
“Jilbab dapat melindungi rambut. Penelitian dan percobaan telah membuktikan bahwa perubahan cuaca dan cahaya matahari langsung akan menyebabkan hilangnya kecantikan rambut dan pudarnya warna rambut. Sehingga rambut menjadi kasar dan berwarna kusam. Sebagaimana juga udara luar (oksigen) dan hawa tidaklah berperan dalam pertumbuhan rambut. Karena bagian rambut yang terlihat di atas kepala yang dikenal dengan sebutan batang rambut tidak lain adalah sel-sel kornea (yang tidak memiliki kehidupan). Ia akan terus memanjang berbagi sama rata dengan rambut yang ada di dalam kulit. Bagian yang aktif inilah yang menyebabkan rambut bertambah panjang dengan ukuran sekian millimeter setiap hari. Ia mendapatkan suplai makanan dari sel-sel darah dalam kulit.
Dari sana dapat kita katakan bahwa kesehatan rambut bergantung pada kesehatan tubuh secara umum. Bahwa apa saja yang mempengaruhi kesehatan tubuh, berupa sakit atau kekurangan gizi akan menyebabkan lemahnya rambut. Dan dalam kondisi mengenakan jilbab, rambut harus dicuci dengan sabun atau shampo dua atau tiga kali dalam sepekan, menurut kadar lemak pada kulit kepala. Maksudnya apabila kulit kepala berminyak, maka hendaklah mencuci rambut tiga kali dalam sepekan. Jika tidak maka cukup mencucinya dua kali dalam sepekan. Jangan sampai kurang dari kadar ini dalam kondisi apapun. Karena sesudah tiga hari, minyak pada kulit kepala akan berubah menjadi asam dan hal itu akan menyebabkan patahnya batang rambut, dan rambut pun akan rontok.” (Terj. Banaatunaa wal Hijab hal. 66-67)

5. “Kalau aku pakai jilbab, nanti tidak ada laki-laki yang mau menikah denganku. Jadi, aku pakai jilbabnya nanti saja, sesudah menikah.”
Wahai saudariku… Tahukah engkau siapakah lelaki yang datang meminangmu itu, sementara engkau masih belum berjilbab? Dia adalah lelaki dayyuts, yang tidak memiliki perasaan cemburu melihatmu mengobral aurat sembarangan. Bagaimana engkau bisa berpendapat bahwa setelah menikah nanti, suamimu itu akan ridha membiarkanmu mengulur jilbab dan menutup aurat, sementara sebelum pernikahan itu terjadi dia masih santai saja mendapati dirimu tampil dengan pakaian ala kadarnya? Jika benar dia mencintai dirimu, maka seharusnya dia memiliki perasaan cemburu ketika melihat auratmu terbuka barang sejengkal saja. Dia akan menjaga dirimu dari pandangan liar lelaki hidung belang yang berkeliaran di luar sana. Dia akan lebih memilih dirimu yang berjilbab daripada dirimu yang tanpa jilbab. Inilah yang dinamakan pembuktian cinta yang hakiki!
Maka, jika datang seorang lelaki yang meminangmu dan ridha atas keadaanmu yang masih belum berjilbab, waspadalah. Jangan-jangan dia adalah lelaki dayyuts yang menjadi calon penghuni Neraka. Sekarang pikirkanlah olehmu saudariku, kemanakah bahtera rumah tanggamu akan bermuara apabila nahkodanya adalah calon penghuni Neraka?

6. “Pakai jilbab itu ribet dan mengganggu pekerjaan. Bisa-bisa nanti aku dipecat dari pekerjaan.”
Saudariku… Islam tidak pernah membatasi ruang gerak seseorang selama hal tersebut tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah. Akan tetapi, Islam membatasi segala hal yang dapat membahayakan seorang wanita dalam melakukan aktivitasnya baik dari sisi dunia maupun dari sisi akhiratnya. Jilbab yang menjadi salah satu syari’at Islam adalah sebuah penghargaan sekaligus perlindungan bagi kaum wanita, terutama jika dia hendak melakukan aktivitas di luar rumahnya. Maka dengan perginya engkau untuk bekerja di luar rumah tanpa jilbab justru akan mendatangkan petaka yang seharusnya dapat engkau hindari. Alih-alih mempertahankan pekerjaan, engkau malah menggadaikan kehormatan dan harga dirimu demi setumpuk materi.
Tahukah engkau saudariku, siapa yang memberimu rizki? Bukankah Allah -Rabb yang berada di atas ‘Arsy-Nya- yang memerintahkan para malaikat untuk membagikan rizki kepada setiap hamba tanpa ada yang dikurangi barang sedikitpun? Mengapa engkau lebih mengkhawatirkan atasanmu yang juga rizkinya bergantung kepada kemurahan Allah?
Apakah jika engkau lebih memilih untuk tetap tidak berjilbab, maka atasanmu itu akan menjamin dirimu menjadi calon penghuni Surga? Ataukah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menurunkan perintah ini kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan mengadzabmu akibat kedurhakaanmu itu? Pikirkanlah saudariku… Pikirkanlah hal ini baik-baik!
7. “Jilbab itu bikin gerah, dan aku tidak kuat kepanasan.”
Saudariku… Panas mentari yang engkau rasakan di dalam dunia ini tidak sebanding dengan panasnya Neraka yang akan kau terima kelak, jika engkau masih belum mau untuk berjilbab. Sungguh, dia tidak sebanding. Apakah engkau belum mendengar firman Allah yang berbunyi,
“Katakanlah: ‘(Api) Neraka Jahannam itu lebih sangat panas. Jika mereka mengetahui.’”(Qs. At-Taubah: 81)
Dan sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
“Sesungguhnya api Neraka Jahannam itu dilebihkan panasnya (dari panas api di bumi sebesar) enam puluh sembilan kali lipat (bagian).” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2843) dan Ahmad (no. 8132). Lihat juga Shahih Al-Jaami' (no. 6742), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]
Manakah yang lebih sanggup engkau bersabar darinya, panasnya matahari di bumi ataukah panasnya Neraka di akhirat nanti? Tentu engkau bisa menimbangnya sendiri…
8. “Jilbab itu pilihan. Siapa yang mau pakai jilbab silakan, yang belum mau juga gak apa-apa. Yang penting akhlaknya saja benar.”
Duhai saudariku… Sepertinya engkau belum tahu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia itu. Engkau menafikan jilbab dari cakupan akhlak mulia, padahal sudah jelas bahwa jilbab adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak mulia. Jika tidak, maka Allah tidak akan memerintahkan kita untuk berjilbab, karena dia tidak termasuk ke dalam akhlak mulia.
Pikirkanlah olehmu baik-baik, adakah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak buruk? Atau adakah Allah mengadakan suatu ketentuan yang tidak termasuk dalam kebaikan dan mengandung manfaat yang sangat besar? Jika engkau menjawab tidak ada, maka dengan demikian engkau telah membantah pendapatmu sendiri dan engkau telah setuju bahwa jilbab termasuk ke dalam sekian banyak akhlak mulia yang harus kita koleksi satu persatu. Bukankah demikian?
Ketahuilah olehmu, keputusanmu untuk tidak mengenakan jilbab akan membuat Rabb-mu menjadi cemburu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya,
“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan seorang Mukmin juga cemburu. Adapun cemburunya Allah disebabkan oleh seorang hamba yang mengerjakan perkara yang diharamkan oleh-Nya.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 4925) dan Muslim (no. 2761)]
9. “Sepertinya Allah belum memberiku hidayah untuk segera berjilbab.”
Saudariku… Hidayah Allah tidak akan datang begitu saja, tanpa engkau melakukan apa-apa. Engkau harus menjalankan sunnatullah, yakni dengan mencari sebab-sebab datangnya hidayah tersebut.
Ketahuilah bahwa hidayah itu terbagi menjadi dua, yaitu hidayatul bayan dan hidayatut taufiqHidayatul bayan adalah bimbingan atau petunjuk kepada kebenaran, dan di dalamnya terdapat campur tangan manusia. Adapun hidayatut taufiq adalah sepenuhnya hak Allah. Dia merupakan peneguhan, penjagaan, dan pertolongan yang diberikan Allah kepada hati seseorang agar tetap dalam kebenaran. Dan hidayah ini akan datang setelah hidayatul bayan dilakukan.
Janganlah engkau jual kebahagiaanmu yang abadi dalam Surga kelak dengan dunia yang fana ini. Buanglah jauh-jauh perasaan was-wasmu itu. Tempuhlah usaha itu dengan berjilbab, sementara hatimu terus berdo’a kepada-Nya, “Allahummahdini wa saddidni. Allahumma tsabit qolbi ‘ala dinik (Yaa Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah diriku. Yaa Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad
Murojaah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah
***
Artikel muslimah.or.id

Tags: muslimah, jilbab, proud to be muslimah, moslem proud

10 Juli 2012

Janji itu Utang?


9 Juli 2012 23:28
Oleh: Isna Hanifah


Janji atau promise adalah harapan yang kita berikan kepada orang lain. Jadi jika kita sudah berjanji dengan orang itu maka kita sudah memberikan harapan 100% kepadanya. Dalam Islam, jika kita mau berjanji maka janji itu harus kita tepati karena janji adalah hutang. Hutang itu harus dibayar atau dilunasi.

Insya Allah

Insya Allah artinya jika Allah menghendaki. Dalam Islam, seseorang dilarang mengucapkan besok saya akan …. Kecuali dengan kata Insya Allah. Karena segala sesuatunya itu harus dengan seizin Allah, kita tidak boleh mendahului takdir. Kita tak pernah tau kondisi kita atau keadaan esok hari yang masih dalam genggaman-Nya. Kita tidak pernah tau apakah esok hari kita sehat, atau ada keperluan yang lebih penting, atau bahkan esok hari kita sudah tiada. Semuanya masih rahasia-Nya, semuanya belum terjadi dan tak ada satupun dari kita yang mengetahui dengan pasti keadaan hari esok.

Anehnya, sering kali kata “Insya Allah” disalah artikan oleh kebanyakan orang. Kata “Insya Allah” menjadi kata untuk mewakili kata ragu atau mewakili kata “tidak”, karena tidak enak menolak tawaran atau janji maka keluarlah kata “Insya Allah”. Misalnya, si A di undang oleh si B datang ke rumahnya pada hari Selasa, namun si A malas ke rumah si B, jadilah si mengucapkan “insya Allah yak!”. Keesokan harinya si A benar-benar tidak datang ke rumah si B, tentu saja si B merasa kecewa karena si A tidak datang.  Ketika ditanya dia menjawab, “kan gue bilang insya Allah.”

Penyelewengan atau penyalah artian kata insya Allah ini berdampak ketika diucapkan oleh orang yang benar-benar berjanji. Misalnya, si X bertanya kepada si Y, “Y, besok bisa ga anterin gue ke toko buku?” jawab si Y, “bisa, insya Allah” kata si X “kok insya Allah? Yang pasti dong! Kalo loe ga bisa kan gw bisa minta temenin yang laen.”  Lalu, si Y menjawab “iya bisa, besok gue ga ada agenda kemana-mana.” Kata Insya Allah menjadi kata yang terdengar meragukan, tidak sungguh-sungguh.  Padahal maksud dari si Y benar, Tapi jika berjanji tidak dengan kata insya Allah, apabila janji itu batal maka akan terasa sangat mengecewakan. Misalnya saja si Y tadi menjawab, “bisa kok.”  Kemudian keesokan harinya terntara harus ke kantor karena mendapat perintah bossnya.  Lalu si Y membatalkan janji itu keesokan harinya. Kata si X, “Yah, lo kan udah janji kemaren mau nganterin gue.” “Iya mau gimana lagi, bos gue yang minta.” Si X akhirnya merasa kecewa. Disitulah, fungsi dari kata Insya Allah sebenarnya. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi esok, dan yang diluar kuasa kita.

Mengenai janji ini, seharusnya yang terpenting adalah kesungguhan untuk menepatinya dan kata Insya Allah wajib kita ucapkan ketika kita berjanji. Ketika kita mengucapkan insya Allah artinya kita sudah berjanji atas nama Allah dan 99% kita akan sungguh-sungguh menunaikan janji itu, dan 1% mungkin gagal jika Allah tidak mengizinkan. Jadi misalnya kita mau berjanji maka ucapkanlah,
“Ok. Insya Allah, gue usahain besok dateng.”  Atau
“Insya Allah gue dateng ke rumah lo jam 7 ya!”
Sehingga lawan bicara kita yakin kita akan menepati janji kita, tapi dia mendengar kata Insya Allah, karena pada dasarnya semua orang mengerti bahwa semua hal itu harus dengan izin-Nya.

Jika ragu, maka jelaskan lah sejelas-jelasnya dengan lawan bicara kita:
“sepertinya bisa, tapi gue ga janji ya bisa dateng ke rumah lo atau ga, soalnya sepertinya besok gue harus ke kantor deh.. tapi insya Allah gue sempetin.”
Jika memang benar2 tak ada niat dan tak memungkinkan untuk membuat janji, jangan sekali-kali berjanji, jangan membuat harapan palsu. Katakan secara halus. Dari pada harus berbohong dan kemudian membuat kecewa orang lain.
“sorry banget, gue lagi banyak banget kerjaan nih, jadi ga bisa maen ke rumah lo.”

Jangan katakan apapun untuk basa-basi, apalagi berbohong untuk menyenangkan hati orang lain jika pada akhirnya anda tahu bahwa anda tak akan pernah memenuhi janji itu.
Jangan lupa, jika kita mau membatalkan sebuah janji, maka kita harus mengkonfirmasi dan meminta maaf. Karena pembatalan sebuah janji itu bukanlah perkara yang sepele. Mintalah maaf dan carikan solusinya.

Nah, itu dari pembuat janji, bagaimana cara kita membaca kesungguhan orang lain dalam berjanji. Misalnya, teman kita mengucapkan : “Insya Allah ya..” itu sudah terdengar ragu-ragu, jangan kita menyangkal : “kok insya Allah sih” orang itu sudah benar mengucapkan kata Insya Allah, yang harus kita lakukan adalah menanyakan kesungguhannya dengan pasti, menghindari rasa kecewa jika memang janji itu benar-benar tidak ditepati. Tanyakan pada orang itu: "Berapa persen kira-kira kesanggupan lo menyanggupi tawaran gue?" Nanti orang itu akan menjawab: hmm mungkin 50%, artinya orang tersebut sangat ragu-ragu. Jika sudah ragu-ragu seperti ini sebaiknya, anda mengambil yang terburuk saja, anggap saja dia tidak menyanggupi, daripada anda akhirnya kecewa.

Sebenarnya, dari soal janji ini kita dapat membaca karakteristik orang lain. Ada yang menganggap enteng sebuah janji, ada pula yang sangat memegang janji  itu (walaupun orang yang dijanjikan itu lupa atau tidak terlalu serius). Jika orang yang menganggap enteng dari sebuah janji, bisa jadi orang tersebut tidak dapat dipercaya, kepercayaan dari orang-orang disekitarnya meluntur akibat seringnya ia membatalkan janji sehingga membuat kecewa orang lain. Lain halnya dengan orang yang selalu memegang janjinya, dia adalah orang yang dapat dipercaya dan dia  tahu bagaimana rasanya ‘kecewa’  maka dia tidak mau mengecewakan orang lain.  Kepercayaan itu mahal harganya dan sangat sulit membangun kepercayaan yang utuh kembali jika kita sudah mengecewakan orang lain.

Tapi, kita juga harus realistis, karena segala sesuatu itu harus dengan izin Allah, manusia sama sekali tidak mempunyai kuasa untuk menentukan takdir. Jadi apabila ada janji yang memang tak dapat ditepati, terimalah dengan ikhlas, karena itu sudah ketentuan-Nya, manusia hanya berencana, Tuhan yang menentukan.

Ini adalah masalah janji dengan manusia, lalu bagaimana soal Janji kita dengan Allah? Tentu saja itu lebih serius lagi. Hati-hati dengan janji. Janji adalah hutang. Janji adalah tanggung jawab. Pegang janji kita, jangan sampai kita di cap sebagai orang yang humbar janji alias ‘omdo’ alias omong doang.

Renungi quote berikut ini :

Kepercayaan itu penting. Sekali saja janji itu dilanggar, kata 'maaf' sudah tak ada artinya. - Drake (source: 
http://www.greatfacebookquotes.com)

Tulisan ini aku dedikasikan untuk aku sendiri yang sedang dikecewakan dengan pembatalan janji tanpa konfirmasi, hahaha tapi sekarang sudah jelas kok.. ^_^ V
Makasih banget buat orang yang pernah mengajarkan kepadaku tentang arti sebuah janji. Orang itu mengatakan:
Kalo gue udah janji, pasti gue tepatin. Janji itu utang.
Kurang lebih begitu orang tersebut mengatakannya.
JLEB!  It’s simple but really meaning full. Ditengah banyak orang yang menganggap enteng janjinya, ternyata ada orang yang dengan sungguh-sungguh mau menepati janjinya, meskipun janjinya itu sepele.

Aku selalu salut dengan orang yang komitmen dengan janjinya!

Aku paling takut membuat orang lain kecewa, karena kecewa itu rasanya daleemm banget dan susah banget benerinnya lagi, akan selalu diingat rasa kecewa itu, walaupun sudah dimaafkan tapi perilaku yang mengecewakan akan membekas dan diingat selamanya.
Jika dikecewakan dengan orang lain, aku selalu ingat nasihat:

Jika ada perbuatan orang lain yang tidak mengenakkan, kamu sedang diingatkan untuk tidak melakukan hal yang sama.

Terima kasih untuk semua nasihat-nasihat itu. Dan ribuan maaf untukmu yang pernah aku kecewakan. Please, forgive me… T_T