15 Desember 2011

Cerita Pak Mario Teguh Muda (Inspirasi)

Mario Muda
STEMPEL SETIP “BUSINESS CONSULTANT”

Saat itu saya baru memasuki usia 27 tahun, dan bekerja di sebuah Bank asing di Jakarta, sebagai Trainee dengan gaji kecil yang pasti habis di akhir bulan, pas untuk bayar uang Bajaj di kantor pada hari gajian.

Kamar kos saya kecil di sebuah rumah yang kecil dan sedehana.

Bathtub (istilah keren untuk bak mandi) di kamar mandi 'bersama' itu, kecil, plastik berwarna hijau terang, ... ember. Dan setiap kali saya mandi, saya sadar sekali bahwa itu sangat sederhana, tapi saya katakan di dalam hati: “Mario, ini sementara.”

Dalam kesederhaan orang muda yang hidup sendiri di Jakarta, saya berkutat antara mendamaikan diri dengan kemiskinan, dan tampil elegan dalam pergaulan dengan orang-orang kaya yang menjadi nasabah Bank.

Man! ... saya frustrasi super keliling.

Miskin, kuper, impiannya besar tapi minder, bekerja di Bank internasional yang keren, biaya hidup mahal, dan setiap akhir bulan seperti perlu didampingi dokter spesialis jantung sebagai penasihat keuangan.

Setiap hari mata saya nanar memandang Jakarta yang megah, sibuk, dan berkembang cepat. Setiap hari saat bergelantungan di bus saya bertanya, akan jadi apakah aku ini nanti?

Suatu hari, karena campuran menggalaukan dari minder dan impian besar, antara rencana yang rinci dan rasa takut mengenai masa depan, saya turun dari bus di jembatan Semanggi, dan berjalan kaki ke bawah jembatan.

Saat itu, di bawah Semanggi banyak tukang buat stempel, dan saya datangi satu meja yang paling kecil yang mungkin paling murah. Saya sodorkan secarik kertas kecil, untuk dibuatkan stempel.

Kertas itu bertuliskan:

------------------------
MARIO TEGUH
Business Consultant
------------------------

Setelah harga cocok, dia mulai meraut karet setip dengan cutter, yang saya tunggui dengan perasaan orang yang sedang terkatung-katung di laut di malam hari.

Dengan dada yang hampir meledak dengan kebanggan yang saya tidak tahu apa, saya pulang dengan menggenggam stempel setip itu, dengan nafas yang bergema tangis ,dan mata yang basah, di bus itu saya berdoa agar dari stempel di genggaman saya itu, kehidupan ini membaik.

Setelah itu, apa pun yang saya tulis, yang saya kirimkan sebagai memo, proposal, dan laporan ke atasan saya – saya berikan satu lembar kertas kosong di depan dan di belakang, saya jepret, lalu di depan saya stempel:

------------------------
MARIO TEGUH
Business Consultant
------------------------

Dua tahun kemudian, pada usia 29 saya menjadi Service Excellence Coordinator untuk Indonesia di Bank asing tersebut, dan salah satu usulan strategi pengembangan budaya pelayanan prima yang saya susun – ditolak oleh atasan saya.

Saya kecewa, agak bete, tapi saya buat copy-nya, saya taruh selembar kertas kosong di depan dan belakang, saya jepret, dan saya stempel:

------------------------
MARIO TEGUH
Business Consultant
------------------------

Pada usia itu, saya membangun karir kedua sebagai pelatih keterampilan bisnis, dengan arah untuk menjadi Business Consultant, di samping karir utama saya saat itu di Bank.

Lima tahun kemudian – pada usia 34 tahun, pada tahun 1990, proposal yang dulu di tolak atasan saya itu, dibeli oleh perusahaan penerbangan utama di negeri kita, untuk pengembangan budaya dan sistem pelatihan Service Excellence yang diterapkan secara nasional dan internasional, dengan harga total program 115,000.- Dolar Amerika (pada waktu itu). Terima kasih Tuhan.

Maka, adik-adik saya yang baik hatinya,

Apa pun ketakutan Anda mengenai masa depan, atau seberapa minder pun Anda mengenai keadaan Anda sekarang, buatlah atau ambillah sebuah tanda – seperti stempel setip saya itu, sebagai pengingat bahwa Anda sudah memulai rencana Anda, dan akan berlaku setia kepada sikap dan perilaku yang akan menjadikan Anda sebagaimana yang Anda impikan.

Tuhan berperan besar di dalam kehidupan jiwa yang mempercayai keindahan dari impiannya.

Impikanlah yang besar, tapi pastikan Anda memiliki sebuah tanda sederhana sebagai tempat pemberangkatan jiwa Anda.

Kita semua akan sampai, jika kita bergerak.

Maka, bergeraklah.

Tidak masalah apakah gerakan Anda terasa seperti lamban, tapi bergeraklah.
Anda akan sampai.



Mario Teguh – Loving you all as always


----------------


PENGALAMAN PERTAMA MENGAJAR ANAK-ANAK KESETARAAN

Selasa, 6 Desember 2011

Siang ini tiba-tiba aku mendapat tawaran mengajar di PKBM lewat telepon. Aku mendapat kabar itu melalui telepon dari sahabatku. Awalnya dia yang mendapat tawaran itu, namun karena dia tidak memiliki waktu, ia memberikan tawaran itu padaku. Aku tanpa pikir panjang langsung menyanggupi, tapi aku ingin melihat-lihat dulu situasi disana sebelumnya. Satu jam kemudian, aku bertemu dengan kepala PKBM itu, kami berjanji bertemu disuatu tempat dan pergi ke tempat PKBM itu bersama. Sepanjang perjalanan kesana, aku baru berfikir. Mengajar anak-anak PKBM tentu tidak sama dengan mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya. 

Sebelumnya, apa kau tau apa itu PKBM kawan? PKBM adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Kalau masih belum ada bayangan juga, itu adalah tempat belajar untuk anak-anak kurang mampu, orang awam mengenalnya dengan pendidikan kesetaraan seperti Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA), tahu kan jika murid kesetaraan muridnya seperti apa kawan? Hmm.. ya benar.. anak-anak putus sekolah atau orang dewasa yang tak punya ijazah pendidikan formal, beragam sekali bukan? Aku sendiri sebenarnya tak terlalu asing dengan kata PKBM karena waktu magang kuliah dulu, aku mendapat tempat di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta bagian PNFI atau Pendidikan Nonformal dan Informal yang mengurusi atau mendata proposal PKBM seluruh DKI Jakarta yang mendapat bantuan dana dari pemerintah. Lanjut ke cerita awal ya, dulu memang pernah terfikir olehku bagaimana nasib dari guru (yang disebut tutor) yang mengajar di PKBM, aku lihat honornya sangat sedikit, namun aku berfikir lagi artinya, orang tersebut bersedia meluangkan waktunya untuk mengajar di PKBM dengan ikhlas tanpa dibayar mahal. Nah, sekarang… posisiku mendapat tawaran itu. ah… aku tak pernah sama sekali membayangkan jika ternyata aku yang menjadi tutornya. Dengan mengucap bismillah, aku mencobanya. Mungkin kau mendengarnya terlalu berlebihan ya? Tapi untuk pengalaman pertama bagiku, mengajar di tempat seperti itu benar-benar membuatku HarapHarapCemas tapi penasaran. Aku penasaran dengan tempatnya. Sebelum aku mengiyakan benar-benar apakah aku bersedia mengajar di PKBM, aku ingin melihat situasinya dulu.

Sesampainya di lokasi (PKBM)

PKBM ini bertempat disuatu bangunan SD. Jadi paginya dipakai untuk anak-anak SD siangnya dipakai belajar anak-anak PKBM. Aku diberikan penjelasan sedikit mengenai PKBM ini oleh kepala PKBM. Jadi anak-anak yang bersekolah di sini tidak dipungut biaya sama sekali. Gratis. Dana-dana untuk menghidupi PKBM ini didapat dari para donatur. Jadi tutor yang mengajar disitu tidak diberikan gaji, hanya diberikan uang transport saja. Aku mengerti, dan aku mengiyakan. Pasti maksud bapak itu, jika aku bekerja disini, aku janganlah berharap akan mendapat gaji. Aku paham itu. Aku bertanya, disini ada berapakah tutornya? Lalu bapak itu menjawab sedikit ragu. Beliau menjelaskan sebenarnya disini ada 4 orang tutor, namun sedang sibuk semua, ada yang sibuk bekerja di tempat lain, ada pula yang sibuk melanjutkan kuliah S1, tinggal beliau sendiri, beliau pun dihari kerja katanya juga sibuk bekerja di sudin PNFI Jakarta selatan. Jadi, ia membutuhkan tutor di hari kerja untuk membantunya mengajar di PKBM, karena kalau tidak ada tutornya maka kasihan anak-anak yang sudah datang tidak jadi belajar. dan aku pun menggangguk paham sekali lagi.

Tiba-tiba bapak itu bertanya, sebelumnya ibu pernah mengajar apa? Aku agak bingung menjawabnya. Aku bilang dulu aku pernah mengajar komputer waktu praktek mengajar di sekolah. Sekarang gentian bapaknya yang bingung. Hahaha (di PKBM kan ga ada pelajaran komputer guys!) akhirnya beliau memberikan alternatif pelajaran lainnya. “Kalau mengajar IPA tingkat SMP bisa ya?” tanpa pikir panjang aku mengiyakannya.

Bapak itu mengeluarkan modul IPA tingkat SMP, dan membukanya. “Kemarin sudah diajarkan Bab 1, sekarang ibu lanjutkan Bab 2 saja, tentang Suhu.” WHAAAT? Aku langsung disuruh masuk kelas? Bapak itu langsung menyuruh anak-anak yang ternyata sudah menunggu cukup lama untuk memulai belajar. aku sedikit panik karena harus mengajar MENDADAK! Biasanya, aku jika mengajar memerlukan persiapan sebelumnya, mengenai bahan ajar, merencanakan pembelajaran, dan segala-galanya seperti di teori pembelajaran yang aku pelajari semasa kuliah. Namun, ternyata saat ini aku harus mendadak masuk kelas! Aku harus mengajar apa ini kawan? Tuhan, bantu aku.

Bukan apa-apa, aku malu lha nanti kalo ditengah pelajaran aku mati gaya. Ga tau mau bahas apa! Ga tau mau ngajar apa, dan mau ngasih tugas apa! Sudah banyak sekali pikiran-pikiran aneh dikepalaku, tapi aku memantapkan hati dan GO!!

Dan pelajaran pun dimulai..........
Sebelum memulai pelajaran aku memulai perkenalan terlebih dahulu, setelah aku memperkenalkan diri, aku meminta anak-anak memperkenalkan diri mereka satu persatu beserta alamat rumahnya.
Aku: “Nama kamu siapa?”
Anak : “Nama saya Rudi” (bukan nama sebenarnya)
Aku : "rumah kamu dimana?"
Anak : “dimana ya? Disrengseng sawah kali.. ga tau bu..”
Aku dalam hati: Hah? Ga tau rumahnya dimana?
Lalu aku mendengar teman sampingnya berbicara, “kita ga punya rumah ya?”
Aku dalam hati: Astaga.. aku lupa! Kondisi anak-anak disini kan beragam.. aku akui kali ini aku salah lain kali aku harus lebih berhati-hati jika bertanya!

Lanjut aku memasuki pelajaran IPA tentang Suhu,
Hah? Suhu.. ya aku sedikit paham tentang suhu, tapi aku tak bisa memberikan tugas apa-apa jika seperti ini.

Hm.. kita lompat saja cari bab yang aku lebih paham!
Aku masuk pelajaran satuan dan besaran!
Aku memberi tugas kepada mereka “mengukur”
Aku bilang, kalian harus mengukur 10 benda apa saja, ukur panjang dan lebarnya!
Benda apa saja boleh, sekolah juga boleh ahaha *maksud becanda*
Eh ada yang nyeletuk.. “ngukur bu guru boleh ga?” 
HA? -_-

Pelajaran pun selesai
Aku bingung,, benar-benar bingung di pertemuan pertama.
Ah.. aku pun sudah diperbolehkan pulang sebelum mereka pulang.
Pengalaman pertama bener-bener mengesankan!
Aku masih harus banyak beradaptasi dengan tempat mengajar ku yang baru ini guys!

Pelajaran yang tak terjadwal, dan semua-semuanya yang sangat jauh dengan pendidikan formal pada umumnya. Ini lah yang disebut PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH!

Yang dulu-dulu aku selalu bingung maksudnya apa pendidikan di luar sekolah ini... ha ha ha

Semoga ini menjadi awal dari perjalananku di dunia pendidikan! Amin...