30 Agustus 2010

Kedewasaan, Apa itu?


Kedewasaan (Maturity), Apa itu?

Dalam bulan Agustus ini banyak sekali kejadian atau peristiwa-peristiwa yang mengajarkan aku arti kedewasaan. Ditambah lagi pada tanggal 23 Agustus 2010 kemarin usia ku genap 21 tahun, usia dimana menurut ilmu psikologi perkembangan sudah memasuki usia dewasa menengah dan usia 21 tahun pun sudah memasuki usia dewasa di mata hukum. Maka akhir-akhir ini aku sering mempertanyakan apa arti dari kedewasaan sesungguhnya. Apakah kedewasaan seseorang dapat dilihat dari usianya atau tidak. Aku jadi ingat beberapa waktu silam ketika di bus ada seorang bapak yang mengajakku ngobrol mengenai kedewasaan. Menurutnya, kedewasaan seseorang tidak dapat dilihat dari usia seseorang, karena orang yang berusia 40 tahun pun masih banyak yang belum dewasa atau masih kekanak-kanakkan. Waktu itu aku hanya mengangguk karena masih belum mengerti betul apa makna yang sebenarnya dari kedewasaan. Sayangnya obrolan kami hanya berlangsung singkat karena bapak itu harus turun dari bus karena sudah sampai tujuan.

Lalu aku mencari beberapa referensi dari berbagai sumber mengenai arti dan makna dari kedewasaan yang sesungguhnya. Menurut Marc & Angel (2007) mengemukakan bahwa kedewasaan seseorang bukanlah terletak pada ukuran usianya, tetapi justru pada sejauhmana tingkat kematangan emosional yang dimilikinya. Berikut ini pemikirannya tentang ciri-ciri atau karakteristik kedewasaan seseorang yang sesungguhnya dilihat dari kematangan emosionalnya.

  1. Tumbuhnya kesadaran bahwa kematangan bukanlah suatu keadaan tetapi merupakan sebuah proses berkelanjutan dan secara terus menerus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan diri.
  2. Memiliki kemampuan mengelola diri dari perasaan cemburu dan iri hati.
  3. Memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan mengevaluasi dari sudut pandang orang lain.
  4. Memiliki kemampuan memelihara kesabaran dan fleksibilitas dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Memiliki kemampuan menerima fakta bahwa seseorang tidak selamanya dapat menjadi pemenang dan mau belajar dari berbagai kesalahan dan kekeliruan atas berbagai hasil yang telah dicapai.
  6. Tidak berusaha menganalisis secara berlebihan atas hasil-hasil negatif yang diperolehnya, tetapi justru dapat memandangnya sebagai hal yang positif tentang keberadaan dirinya.
  7. Memiliki kemampuan membedakan antara pengambilan keputusan rasional dengan dorongan emosionalnya (emotional impulse).
  8. Memahami bahwa tidak akan ada kecakapan atau kemampuan tanpa adanya tindakan persiapan.
  9. Memiliki kemampuan mengelola kesabaran dan kemarahan.
  10. Memiliki kemampuan menjaga perasaan orang lain dalam benaknya dan berusaha membatasi sikap egois.
  11. Memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants).
  12. Memiliki kemampuan menampilkan keyakinan diri tanpa menunjukkan sikap arogan (sombong).
  13. Memiliki kemampuan mengatasi setiap tekanan (pressure) dengan penuh kesabaran.
  14. Berusaha memperoleh kepemilikan (ownership) dan bertanggungjawab atas setiap tindakan pribadi.
  15. Mengelola ketakutan diri (manages personal fears)
  16. Dapat melihat berbagai “bayangan abu-abu” diantara ekstrem hitam dan putih dalam setiap situasi.
  17. Memiliki kemampuan menerima umpan balik negatif sebagai alat untuk perbaikan diri.
  18. Memiliki kesadaran akan ketidakamanan diri dan harga diri.
  19. Memiliki kemampuan memisahkan perasaan cinta dengan berahi sesaat.
  20. Memahami bahwa komunikasi terbuka adalah kunci kemajuan.

Kewajiban setiap orang adalah menumbuhkan “KEDEWASAAN” itu di dalam dirinya sendiri, dan menjadi bagian dari dirinya sendiri. Berikut ini ada beberapa kualitas atau tanda mengenai kematangan seseorang:

1. Dia menerima dirinya sendiri

Eksekutif yang paling efektif adalah ia yang mempunyai pandangan atau penilaian baik terhadap kekuatan dan kelemahannya. Ia mampu melihat dan menilai dirinya secara obyektif dan realitis. Dengan demikian ia bisa memilih orang-orang yang mampu membantu mengkompensasi kelemahan dan kekurangannya. Ia pun dapat menggunakan kelebihan dan bakatnya secara efektif, dan bebas dari frustasi-frustasi yang biasa timbul karena keinginan untuk mencapai sesuatu yang sesungguhnya tidak ada dalam dirinya. Orang yang dewasa mengenal dirinya sendiri dengan lebih baik, dan senantiasa berusaha untuk menjadi lebih baik. Ia tidak berkepentingan untuk menandingin orang lain, melainkan berusaha mengembangkan dirinya sendiri. Abraham Maslow berkata, ”Orang yang dewasa ingin menjadi yang terbaik sepanjang yang dapat diusahakannya”. Dalam hal ini dia tidak merasa mempunyai pesaing-pesaing.

2. Dia menghargai orang lain

Eksekutif yang efektif pun bisa menerima keadaan orang lain yang berbeda-beda. Ia dikatakan dewasa jika mampu menghargai perbedaan itu, dan tidak mencoba membentuk orang lain berdasarkan citra dirinya sendiri. Ini bukan berarti bahwa orang yang matang itu berhati lemah, karena jika kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri seseorang itu sudah sedemikian mengganggu tujuan secara keseluruhan, ia tak segan memberhentikannya. Ukuran yang paling tepat dan adil dalam hubungan dengan orang lain bahwa kita menghormati orang lain, adalah ketiadaan keinginan untuk memperalat atau memanipulasi orang lain tersebut.

3. Dia menerima tanggung jawab

Orang yang tidak dewasa akan menyesali nasib buruk mereka. Bahkan, mereka berpendapat bahwa nasib buruk itu disebabkan oleh orang lain. Sedangkan orang yang sudah dewasa malah mengenal dan menerima tanggung jawab dan pembatasan-pembatasan situasi dimana ia berbuat dan berada. Tanggung jawab adalah perasaan bahwa seseorang itu secara individu bertanggung jawab atas semua kegiatan, atau suatu dorongan untuk berbuat dan menyelesaikan apa yang harus dan patut diperbuat dan diselesaikan. Mempercayakan nasib baik pada atasan untuk memecahkan persoalan diri sendiri adalah tanda ketidakdewasaan. Rasa aman dan bahagia dicapai dengan mempunyai kepercayaan dalam tanggung jawab atas kehidupan sendiri.

4. Dia percaya pada diri sendiri

Seseorang yang matang menyambut dengan baik partisipasi dari orang lain, meski itu menyangkut pengambilan keputusan eksekutif, karena percaya pada dirinya sendiri. Ia memperoleh kepuasan yang mendalam dari prestasi dan hal-hal yang dilaksanakan oleh anak buahnya. Ia memperoleh perasaan bangga, bersama dengan kesadaran tanggung jawabnya, dan kesadaran bahwa anak buahnya itu tergantung pada kepemimpinannya. Sedangkan orang yang tidak dewasa justru akan merasa sakit bila ia dipindahkan dari peranan memberi perintah kepada peranan pembimbing, atau bila ia harus memberi tempat bagi bawahannya untuk tumbuh. Seseorang yang dewasa belajar memperoleh suatu perasaan kepuasaan untuk mengembangkan potensi orang lain.

5. Dia sabar

Seseorang yang dewasa belajar untuk menerima kenyataan, bahwa untuk beberapa persoalan memang tidak ada penyelesaian dan pemecahan yang mudah. Dia tidak akan menelan begitu saja saran yang pertama. Dia menghargai fakta-fakta dan sabar dalam mengumpulkan informasi sebelum memberikan saran bagi suatu pemecahan masalah. Bukan saja dia sabar, tetapi juga mengetahui bahwa adalah lebih baik mempunyai lebih dari satu rencana penyelesaian.

6. Dia mempunyai rasa humor

Orang yang dewasa berpendapat bahwa tertawa itu sehat. Tetapi dia tidak akan menertawakan atau merugikan/melukai perasaan orang lain. Dia juga tidak akan tertawa jika humor itu membuat orang lain jadi tampak bodoh. Humor semestinya merupakan bagian dari emosi yang sehat, yang memunculkan senyuman hangat dan pancaran yang manis. Perasaan humor anda menyatakan sikap anda terhadap orang lain. Orang yang dewasa menggunakan humor sebagai alat melicinkan ketegangan, bukan pemukul orang lain.

7. Dia mempunyai ketabahan, keuletan, dan daya tahan

Orang dewasa bukannya orang yang bebas dari beban. Namun dia selalu mampu bangkit dari goncangan-goncangan hidup, dan tidak berpura-pura seolah-olah semuanya baik. Dia menerima kenyataan bahwa rasa sakit harus dipikul, kesalahan harus diperbaiki, dan tidak perlu menghabiskan waktu untuk menyesali keadaan. Kegagalan mungkin meremukkan orang yang lemah, namun bagi mereka yang dewasa, kegagalan menjadi pelajaran yang berharga.

8. Dia dapat membuat keputusan-keputusan

Orang yang dewasa, meski harus dengan sabar mengumpulkan fakta untuk memecahkan persoalan, dapat mengambil keputusan berdasarkan data-data yang kurang lengkap. Dia sadar bahwa terkadang dia harus mengambil tindakan berdasarkan keyakinan terhadap dirinya sendiri. Dia bersedia memikul resiko, namun tetap berdasarkan perkiraan-perkiraan yang terbaik yang dapat diperolehnya. Dia tahu, jika harus menunggu semua kepastian, mungkin sekali dia akan ketinggalan kereta.

9. Dia memiliki integritas

Seseorang yang matang bukanlah orang yang mudah beralih dan menyimpang karena keinginan-keinginan yang muncul tiba-tiba, namun ia dapat beralih dari satu topik ke topik lain tanpa menjadi kacau dan bingung. Dia bukan orang yang menyerak-nyerakkan energinya sia-sia.

10. Dia senang bekerja

Seseorang yang beremosi sehat dan berkepribadian matang tahu bagaimana menikmati pekerjaannya. Dia jarang bermalas-malasan. Dia menghargai pekerjaannya sehingga mendapatkan kepuasan dalam melakukan sesuatu yang baik. Namun demikian banyak orang yang bekerja sebagai bentuk pelarian atau persembunyian dari persoalan berat dan kekecewaan dalam kehidupan pribadinya. Dorongan yang tidak sehat ini memang bisa membuat perusahaan tempat mereka bekerja mendapat keuntungan, tetapi tidak adil bagi diri mereka sendiri. Bagi mereka yang dewasa, bekerja adalah jalan untuk membangun monumen masa depan mereka. Bekerja merupakan jalan untuk menunjukkan dedikasi mereka, dan menjaga diri untuk tidak berkubang dalam kecemasan-kecemasan dan persoalan mereka sendiri.

11. Dia mempunyai prinsip-prinsip yang kuat

Seseorang yang matang dan dewasa tidak mudah menyerah dalam memegang teguh prinsip-prinsipnya, namun ia luwes jika itu bukan untuk kepentingan pribadinya. Dia mempunyai perasaan nilai yang kuat yang menjadi pembimbingnya dalam bertingkah laku. Bagi mereka yang dewasa, perusahaan dipandang sebagai sebuah makhluk hidup yang perlu untuk diasuh dan dilindungi. Ini menjadikan mereka begitu keras dalam menghadapi orang lain jika keberadaan perusahaan perlu diselamatkan.

12. Dia seimbang

Seseorang yang sudah berkepribadian dewasa akan hidup dalam suatu kehidupan yang berkeseimbangan. Dia sanggup bekerja keras namun juga mampu melepaskan diri dari tekanan-tekanan serta menikmati waktu senggangnya. Dia menyadari perannya dalam perspektif yang lebih besar dan lebih luas.

Itulah Beberapa hal yang mungkin dapat membantu kita dalam menjalani sebuah proses dengan sebuah pengertian yang mendalam bagaimana sebuah “KEDEWASAAN” ada atau bahkan tidak ada sama sekali dalam diri kita.

“Maturity need not necessarily come with age, but with awareness and understanding…”


sumber :

http://organisasi.org/ukuran-kedewasaan-seseorang-bukan-dari-usianya

http://mymusical-inst.blogspot.com/2010/04/sudah-bertahun-tahun-kata-kedewasaan.html

http://rhapsodixx.net/blog/?p=127

gambar : smart baby - searcing google :)


29 Agustus 2010

Petak Umpet


"Petak Umpet" adalah sebuah permainan anak-anak yang cukup populer di kalangan anak-anak (setidaknya hingga tahun 90-an). Tidak hanya di Indonesia, di negara-negara lain juga mengenal permainan ini yang disebut "hide and seek". Tapi kali ini aku hanya ingin berbagi cerita permainan petak umpet di Indonesia aja. hehehe. Permainan ini cukup menantang karna menuntut suatu strategi jitu bagaimana agar bisa menemukan teman yang mengumpat dan teman yang mengumpat pun harus cepat mencari tempat teraman untuk bersembunyi agar tidak ketahuan musuh. Peraturan yang digunakan pun pada dasarnya sama di setiap daerah yaitu dimainkan oleh 2 orang atau lebih dan biasanya dimulai dengan "hompimpa". Satu orang bertugas untuk menjaga tempat yang biasa disebut benteng dan sisanya bertugas mencari tempat persembunyian masing-masing.

Agar tidak ketahuan oleh si penjaga (baca: yang jaga). tapi taukah kamu apa yang membedakan permainan ini di satu daerah ke daerah yang lain?setelah saya bertanya dengan teman-teman saya di kampus ternyata perbedaannya ialah terletak pada bunyi seruan atau yang bisa kita sebut kata kunci (password) yang dilontarkan para pemainnya saat mereka berhasil keluar dari persembunyiannya atau saat si penjaga berhasil menemukan teman-temannya dan harus kembali ke tempat/ tembok yang sedang di jaganya.


Inilah jawaban dari teman-teman saya ketika saya bertanya apa password di daerah mereka ketika bermain petak umpet:
1. Pong!
2. Bon!
3. Plong!
4. Dor!
5. Po!
6. Hong!


Karena dulu sewaktu kecil saya memainkan dengan sebutan "pong!" maka saya tidak terlalu heran dengan sebutan di atas karna tidak terlalu sulit untuk diucapkan sewaktu kita harus cepat-cepat memegang benteng dengan menyebut "password" itu. namun, yang saya heran ialah ketika saya menemukan ada beberapa "password" yang lebih dari 1 suku kata seperti:

1. Ingglo!

2. Juntrit!
3. Apel! (baca: apel ala orang batak bukan buah apel)
4. Mataliun..!
5. Cimanci!
6. Jegur!
7. Benteng!
8. Bela!


waktu pertama kali mendengar password2 tsb saya sangat heran dan tertawa geli... rasanya sungguh repot untuk menyebutkan password2 itu...
pelajaran yang bisa kita ambil dari perbedaan password ini adalah sebenarnya kita mempunyai satu tujuan namun kita sering kali menyebutnya dengan beda-beda bahasa maka agar kita bisa bersatu dan memainkan permainan ini maka kita harus menyepakati password dulu jangan sampai setiap orang menyebutkan password yang berbeda-beda ini akan menjadi keributan yang besar jika kita tidak menyepakatinya dari awal. karena password ini adalah kunci dari permainan ini, kalo passwornya saja sudah beda-beda bagaimana benteng itu bisa diraih?



sekarang pertanyaan yang terbesit adalah siapakah yang pertama kali pencetus password2 itu? sepertinya mereka 'mengarang indah' dan apakah arti dan makna dari kata2 itu?
dan yang saya heran lagi siapakah yang memulai permainan ini karena pasti orang-orang itu adalah orang-orang yang sangat kreatif karena permainan itu
banyak yang menyukainya hingga saat ini.


sungguh beruntunglah anak-anak yang masih merasakan nikmatnya permainan ini karena melatih daya pikir para pemainnya (biasanya anak-anak) untuk berfikir keras bagaimana mengatur strategi agar bisa meraih benteng paling cepat dengan menyebutkan password2 yang berlaku. Namun sayangnya kini permainan ini sudah mulai berkurang peminatnya karena tergilas oleh budaya2 baru dikalangan anak-anak. Lihat saja zaman sekarang anak SD sudah bermain HandPhone bahkan
blackbarry, kalaupun mereka bermain permainan tradisional mereka bermain melalui game yanga ada di handphone mereka. mungkin ini juga dipengaruhi oleh kemajuan IPTEK dan juga berkurangnya lahan-lahan kosong yang telah berubah menjadi bangunan-bangunan tinggi sehingga sudah tidak ada tempat untuk bermain bersama teman sebaya. Bersyukurlah bagi kamu-kamu yang pernah merasakan sensasi permainan-permainan tradisional terutama Petak Umpet ini.


hayo... kapan kamu terakhir bermain petak umpet dan apa password kamu dulu? Masih ingatkah? :)


sumber gambar : swotti.com